26.10.11

Fiksi #2

Bertahun-tahun setelah hari hujan itu, aku kembali ke sekolah ini. Sekolah kecil namun menyimpan sejuta kenangan yang rasanya tak mungkin kulupakan. Gedungnya kini menjadi bertingkat, namun lapangannya tetap satu dan sempit. Aku ingat dulu setiap harinya yang main basket dan futsal selalu bermain bersama menjadi satu di lapangan itu, hingga banyak yang tadinya main basket jadi ikut main futsal dan begitu juga sebaliknya. Pantas saja baik tim basket maupun futsal sekolahku tak pernah berprestasi.

Hampir saja aku melenggang meninggalkan lapangan itu hingga satu suara yang berat memanggilku dengan tergesa, "Ve? Kamu Ve, kan?"
Spontan aku menoleh ke arah suara tersebut. Astaga, rasanya jantungku mau copot.

Ya, laki-laki itu berdiri di sana. Di tempat ia biasa duduk sambil menunggu gilirannya main basket. Ia berdiri dan berjalan ke arahku sambil tersenyum. Senyum yang membuat semua orang yang melihatnya ikut tersenyum. Aku masih seperti dulu, selalu salah tingkah ketika bertemu dia. Kalau dulu aku segera memalingkan wajah karena takut bersemu merah, sekarang aku sudah cukup pintar menyembunyikannya. Lalu kusapa ia balik, "Hei, Dan!"

Aneh, karena saat masih berada di satu sekolah dulu kami tak pernah dekat. Tak pernah berbincang. Atau mestinya kuhitung juga obrolan (sangat) singkat di bawah jaketnya saat hari hujan itu... Selain itu, kami cuma tau nama satu sama lain. Semakin dekat, aku bisa melihat wajahnya lebih jelas. Matanya tetap berbinar seperti dulu, seperti sepasang mata anak kecil yang mendapat mainan baru. Senyumnya tetap dan selalu lebar, yang mau tak mau ikut menarik matanya untuk tersenyum. Separuh terkejut, aku melihatnya sebagai sosok yang murah hati berbagi jaket denganku ini sudah menjadi seorang pria dewasa yang tampan.

"Apa kabar, Ve? Kok bisa ya kita ketemu di sini lagi?"
"Baik, Dan. Nggak tau nih, aku tadi kebetulan lewat terus pengen mampir aja. Kamu sendiri, ngapain di sini?"
"Hmmm.. Aku kangen sekolah ini, Ve..."

Setelah itu kami diam untuk beberapa saat. Memandang langit yang semakin gelap, dan rimbun pepohonan yang bergoyang ditiup angin kencang. Tanda-tanda hujan akan turun.

"Ya ampun, mau hujan nih Ve. Kenapa ya kita ngobrol tiap hari hujan? Hahaha"
"Jangan-jangan kamu pemanggil hujan ya? Ayo berteduh di bawah gerbang!"

Lalu kami berlari-lari sambil tertawa seperti sepasang anak sekolah berumur belasan tahun, dan diam lagi di bawah gerbang. Benar saja, hujan segera turun dengan derasnya, angin bertiup kencang, langit menggelap. Aku dan dia sama-sama tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kami menikmati kesunyian ini, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menatap hujan. Membawa berjuta perasaan yang aku tak tau apa namanya.



Picture source: Tumblr

25.10.11

Fiksi #1

"Eh, hujan!" seru teman kelasku saat itu.
Tak percaya, aku melihat keluar lewat jendela. Benar saja, hujan turun rintik-rintik, makin lama makin deras. Bel pulang sekolah berbunyi, kami berbondong-bondong keluar dari kelas.

Seperti biasa, ketika hari hujan, gerbang sekolah yang tak seberapa luas itu dipenuhi hampir seluruh siswa yang berteduh sambil menunggu dijemput. Saking sesaknya, kupastikan semua murid yang ada di situ susah bernafas. Aku melihat ke sekeliling, semuanya sibuk sendiri. Ada yang bingung mengabari ibunya agar segera menjemput, banyak juga yang sedang bercanda atau mengobrol dengan yang lain.

Sampai mataku tertuju pada sosok itu, yang sedang bergurau dengan sahabatnya. Sahabatnya yang konyol itu. Entah kenapa hanya dengan melihat mereka, aku ikut tertawa. Aku memperhatikannya, matanya yang menyipit ketika ia tertawa lebar dan posturnya yang tinggi tegap. Lalu aku tersenyum.

Sesaat setelah itu, ketika ibuku sudah memberitahu bahwa ia sudah di depan sekolah, aku segera mencari jalan untuk keluar dari lautan manusia itu. Namun hujan masih mengguyur deras daerah sekolah kecil itu, membuatku bingung bagaimana harus keluar. Lalu seseorang dari belakang berkata, "Ayo bareng. Pake jaketku."

Beberapa detik kemudian tak sadar aku sudah berada di bawah jaket seseorang yang tengah di buka lebar untuk memayungi kami. Aku mendongak, melihat siapa pemilik jaket itu.
Dia. Yang matanya menyipit ketika tertawa lebar.

Hujan, aku jatuh cinta.

18.10.11