21.12.10

Suatu Sore di Kedai Es Krim

Kejadian itu seakan terulang kembali dalam pikiran Bi saat melewati sebuah jalan di mana terletak pohon besar nan kokoh di sisinya. Banyak kendaraan umum berjejer-jejer menunggu penumpang di depan kedai es krim ternama itu, masih sama seperti dulu.

Bi memandang sekitarnya. Gedung-gedung kokoh di daerah itu sekarang dimanfaatkan sebagai area pertokoan laris, padahal dulu itu tempat Bi dan kawan-kawannya main petak umpet. Bi lalu memejamkan mata dan menyendenkan badan di jok mobilnya yang ia parkir di dekat pohon besar. Bukan karena ia terlelap, tapi karena ia teringat perkataan El.

"Bi, kamu tau kenapa waktu kamu mimpi matamu terpejam?"

"Nggak tau, emang kenapa?"

"Soalnya, semua hal yang indah hanya bisa terlihat dan terjadi ketika mata kita terpejam."

"Wah! Dapet kata-kata darimana tuh??? Hahahaha."

Bi lalu tertawa kecil sembari membuka matanya. Konyol, batinnya. Tapi aku percaya itu, sisi lain alam bawah sadarnya berujar. Bi ingat betapa polosnya ia dan El dulu. Berbagi cerita, menyimpan rahasia, saling menguatkan... Dan jatuh cinta. Cinta yang sebenarnya tidak boleh dipelihara. Cinta yang tidak mereka beritahukan ke siapapun, termasuk kepada orang yang mereka cintai.

Bi tahu teman baiknya, Ai, menyukai El dari pertama kali mereka masuk SMP. Bi mulanya bahkan tidak tahu siapa itu El, apa hebatnya dia sampai sahabatnya itu tergila-gila pada El. Setiap hari Ai menulis di diari kecilnya yang memiliki gembok itu dengan awalan "Dear El,". Bi ingat betul itu. Ia juga ingat bahwa Bi juga satu-satunya orang yang diizinkan Ai memiliki kunci duplikat untuk gembok di diarinya itu. Bi adalah satu-satunya orang yang diizinkan Ai untuk mengetahui, dan menjaga rahasianya.

Sampai pada suatu saat yang tak diduga-duga, Bi melihat El untuk yang pertama kalinya. Saat itu mereka sedang berada di depan gerbang sekolah, dan tanpa sengaja Bi melihat badge nama El. Jadi itu yang digilai Ai, batin Bi.

Pertemuan itu berarti lebih bagi El. El melihat wajah Bi bersinar pagi itu, ia tidak seperti perempuan lain, begitu firasat El. Sejak saat itu El sering sekali dengan sengaja melewati kelas Bi hanya untuk melihat wajahnya yang menenangkan itu. Sering ia mencuri pandang ke arah Bi ketika mereka sedang berada di kantin. Sering ia kagum ketika Bi maju saat upacara karena ia memenangkan berbagai perlombaan.

Begitulah awal rasa itu dimulai, baik Eldan tanpa didugamaupun Bi. Bi memandang El sebagai siswa yang badung, namun teman yang baik. Terbukti saat ia melihat El membantu Doni untuk membayar SPP-nya dengan meminjamkan uang sakunya kepada Doni. Sejak saat itu, tumbuh simpati untuk El di hati Bi.

Seringnya El 'mampir' ke kelas Ai dan Bi pun membuat Ai senang, dan sekaligus berharap banyak. Ia mengira, El memiliki perasaan khusus padanya. Karena entah bagaimana, ketika El melihat ke arah Bi, selalu ada Ai di situ. Dan kesalah pahaman pun begitu saja terjadi.

Bi membatasi perasaannya hanya cukup simpati, tidakbolehlebih. Bi mawas diri, sahabatnya menyukai El teramat sangat, tidak mungkin Bi tampil sebagai penggemar El juga di depan Ai. Lalu dengan naifnya, sms-sms El yang dialamatkan kepada Bi pun dijadikan wadah oleh Bi untuk men-'comblang'-kan El dan Ai. El bingung dengan sifat Bi yang sangat persuasif terhadapnya untuk bertemu dan mengobrol langsung dengan Ai. Namun El menurut saja, demi bisa bertemu juga dengan Bi.

Namun sejak saat itu, sms-sms El yang dulunya sering menghampiri Bi lambat laun menghilang. Bukan menghilang sebenarnya, tapi berpindah ke inbox Ai. Ya, Bi sukses mencomblangkan mereka berdua.

Mereka bagaikan pasangan paling serasi dan bahagia, saling melengkapi satu sama lain. Bi senang sahabatnya bahagia karena bisa bersama dengan orang yang dipujanya begitu rupa dari dulu. Bi senang sekali, karena diari Ai tidak lagi berisi pertanyaan putus asa, tapi kisah tentang betapa akhirnya sang putri bisa bersatu dengan pangerannya. Bi senang ia bukanlah satu-satunya yang mengetahui rahasia Ai, karena sekarang El yang begitu dipuja Ai sudah menjadi rahasia umum yang membahagiakan.

Sampai pada sore itu, Bi menemani Ai dan El di kedai es krim ternama. Mereka mengobrolkan apa saja, tentang bagaimana Ai begitu suka dengan El dan El yang akhirnya mengenal Ai. Tapi seonggok rasa aneh itu menyergap Bi tanpa ampun, memaksa matanya untuk bereaksi tidak wajar. Bi tidak paham kenapa ia berkaca-kaca.

"Ai, El, aku ke belakang dulu ya. Enjoy your time."

Bi buru-buru beranjak dari tempat duduknya dan tanpa menoleh lagi ia menutupi mukanya, menahan buncahan air mata yang tak tahu diri itu. Sesampainya ia di kamar mandi, Bi menatap kaca. Ia sendirian. Bi melihat dirinya, ia benci. Kenapa aku menangis? Tanya Bi dalam hati. Pertanyaan itu justru memancing air matanya keluar lebih banyak lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Namun tetap hening. Bi tidak ingin tangisnya didengar siapapun. Setelah puas menangis, ia keluar dari kamar mandi dan bergegas mengambil tasnya di kursi tempatnya tadi.

"Eh, aku les dulu ya. Got to go, have fun you two!"

"Lho, Bi, kok buru-buru? Lesmu kan jam 6?" tanya Ai.

"Iya nih, ayo habisin dulu es krimmu!" kata El.

"Umm, nope, I'm full. Lagipula aku belum ngerjain PR buat les nanti, hehe. See you guys!" tutup Bi tanpa memberi celah Ai dan El untuk mencegahnya pergi lagi.

***

Sekeluarnya dari kedai itu, ia menangis. Ia bersembunyi di balik pohon besar yang rindang, menyembunyikannya dari siapapun. Langit sudah mulai gelap. Bi berjongkok seperti anak kecil dan menutupi mukanya, menangis sejadi-jadinya. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari ini, Bi tidak tahu. Berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari ini hanya untuk menyadari bahwa sebenarnya Bi menyayangi El sepenuh hati, tanpa pamrih...

Bi tidak tahu. Ngilu.

***

El tahu apa yang dirasakan oleh Bi. El bahkan lebih sedih, karena bukan hanya membohongi Bi, ia juga membohongi dirinya sendiri dan juga Ai. El menyayangi Bi, bukan Ai. Ia bersama Ai hanya karena ia tidak ingin melukai dan mempersulit Bi, karena ia tahu Bi sangat menyayangi sahabatnya itu. El tidak ingin merusak persahabatan mereka. Lagipula El masih ingat sms terakhir Bi untuknya yang tak sanggup ia balas:

El,

I hope you could make her happy.

Be her best.

Laugh with her, tell your stories to her just like you did with me.

Treat her like a princess.

You break her heart, I’ll break your face. Haha :P


______________________________________________

Surabaya, 21 Desember 2010

Hanif Abida

2 comments: